Kamis, 24 September 2015

Pahlawan atau Lawan.

Assalamaualaikum, teman
Lama gk ngemeng  disini lagi..
Kali ini ane mau cerita sesuatu yang tak baik di utarakan*nah loh. Kenapa elu utarakan?? :/ heheh *skip


Tau gak? Kadang kita-kita ini sukak banget belagak seperti pahlawan. Bener ya?? Lagak nya datang diwaktu yang tepat dan meluruskan suatu hal yang salah. Tapi salah gk kalau begitu ?? tentu gk salah.
Itu permasalahan yang akan kita bahas kali ini. Tentang seorang pahlawan yang berpotensi menjadi lawan* maksudnya lawan dari kebaikan :D.

Kita mulai aje yeee,,,
Ini lah dia, seorang manusia yang visi misinya menjadi seorang anak yang bermanfaat untuk orang banyak, menjadi seorang yang selalu ada ketika dibutuhkan, dan menjadi seorang perubah dijagat kemeanstriman negeri yang bingung ini.. *lebay amat lu…
Ini bener lo.. kenaifan yang buat gini (atau kebanyakan nonton naruto)

si anak ini berusaha untuk belajar menjadi seorang  yang bijak . *bisa dibilang berkaitan dengan agama. Menjadi seorang kakak kelas yang selalu ditanyai tentang hal – hal yang berkaitan tentang kebenaran, kepantasan dan apa yang harus dilakukan. Gak gampang untuk menjadi seperti itu memang, tiap harinya pasti ada saja pilihan – pilihan yang berbeda yang diambil si anak dari pada teman lainnya. Tiap harinya dia membebankan dirinya untuk bias lebih baik dari temannya disegi apapun terutama akhlak. Dan itu gk mudah. *skip*emang elu peduli ?? hahahh
Kadang si anak terpeleset dengan apa yang dikatakannya sendiri * berdoa aja allah nutupin aibnya. Karna emang gk ada manusia yang sempurna. Yang ada, kalau dia ngerasa bersalah maka dia wajib memperbaiiki kesalahannya. Dan sisi-sisi ini jarang diperhitungkan orang lain. Insya allah terus begitu

Permasalahan si anak yang sok pahlawan ini adalh.
Akhwat lagiii, akhwat lagi,,,

Diawal semua adalah baik – baik saja. Hanya sebuah nasihat yang layak dan biasa. Dari si anak ke adik kelasnya(akhwat). Dikatakan lah,, ini, itu, seperti itu, seperti ini,,,  dan itu masih biasa saja… agar si adik bias lebih paham lagi.
Hingga akhirnya keperdulian yang sedikit lebih itu ternyata memunculkan masalh. Pembelokan niat dari godaan syaitan yang terikuti meunculkan kebimbangan hati. Disatu sisi hati menganggap jangan ada keperdulian yang berlebih namun disatu sisi tidak begitu.

Singkat cerita. Si anak melanggarnya. Melanggar hati nuraninya.. melanggar untuk mengambil jalan yang sama seperti jalan orang-orang banyak pilih. Walau pun tidak separah itu. Tetaplah melanggar.pastilah ada kekecewaan, dan akan ada ketidak kepercayaan.

Si anak Sudah tersandung, ..
Dan masih ingin berdiri…. Masih ingin berlari.
Masih ingin membagi pengalaman, masih ingin membijak kan diri.
NB*sebagian tambahan, sebagian kebenaran


Sekian………..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar